8 Cara Membuat Laporan Keuangan Lengkap Mudah Banget!

Cara membuat laporan keuangan dimulai dari mencatat seluruh transaksi ke dalam jurnal, memposting jurnal ke buku besar, menyusun neraca saldo, membuat jurnal penyesuaian, menyusun neraca lajur, menyusun laporan keuangan utama, membuat jurnal penutup, dan diakhiri dengan neraca saldo setelah penutupan. Proses ini dikenal sebagai siklus akuntansi dan berlaku baik untuk pencatatan manual maupun dengan bantuan software akuntansi. Agar hasilnya akurat, penting untuk mencatat semua transaksi secara konsisten, menggunakan sistem akrual, dan mematuhi tenggat waktu penyusunan secara berkala, baik bulanan maupun tahunan.

Buat kamu yang baru mulai mengelola keuangan bisnis sendiri, urusan laporan keuangan sering kali kelihatan ribet dan bikin mumet duluan sebelum dicoba. Padahal, kalau kamu paham alurnya, cara membuat laporan keuangan itu sebenarnya bisa diikuti langkah demi langkah dengan cukup sistematis, meski memang butuh ketelitian ekstra.

Laporan keuangan sendiri bukan cuma formalitas administratif, tapi jadi dasar penting buat kamu mengambil keputusan bisnis, mulai dari evaluasi kinerja sampai perencanaan ke depan. Yuk, kita bahas tahapannya satu per satu biar kamu nggak lagi bingung mulai dari mana.

Cara Membuat Laporan Keuangan Langkah demi Langkah

Berikut tahapan lengkap yang perlu kamu ikuti, dikenal juga sebagai siklus akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan.

1. Mencatat Transaksi ke dalam Jurnal

Langkah pertama adalah mencatat semua transaksi yang terjadi, baik itu pembelian, penjualan, penerimaan kas, maupun pengeluaran, ke dalam jurnal. Setiap transaksi wajib punya bukti pendukung, seperti nota, kwitansi, atau faktur, karena ini jadi dasar pencatatan yang sah dan bisa ditelusuri kembali kalau ada kesalahan.

2. Memposting Jurnal ke Buku Besar

Setelah dicatat di jurnal, transaksi tersebut dipindahkan ke buku besar sesuai akun masing-masing. Buku besar ini berfungsi mengelompokkan setiap transaksi berdasarkan jenis akunnya, misalnya kas, piutang, atau beban operasional, biar lebih mudah dipantau per kategori.

3. Menyusun Neraca Saldo

Cara membuat laporan keuangan selanjutnya adalah menyusun neraca saldo. Neraca saldo adalah daftar seluruh saldo akun dari buku besar, yang dikelompokkan ke dalam sisi debit dan kredit. Tahap ini penting buat memastikan total debit dan kredit sudah seimbang sebelum lanjut ke proses berikutnya.

Baca Juga: Ini! 5 Jenis Laporan Keuangan dan Fungsinya bagi Bisnis

4. Membuat Jurnal Penyesuaian

Di akhir periode, biasanya ada transaksi yang belum tercatat atau perlu disesuaikan, misalnya penyusutan aset atau beban yang masih harus dibayar. Jurnal penyesuaian dibuat buat memastikan saldo akun mencerminkan kondisi yang sebenarnya sebelum laporan disusun.

5. Menyusun Neraca Lajur

Cara membuat laporan keuangan selanjutnya adalah menyusun neraca lajur. Neraca lajur atau kertas kerja membantu menyatukan data dari neraca saldo dan jurnal penyesuaian dalam satu tabel. Dari sini, kamu bisa melihat saldo yang sudah disesuaikan dan siap dipindahkan ke laporan laba rugi maupun neraca.

6. Menyusun Laporan Keuangan

Setelah data di neraca lajur rapi, saatnya menyusun laporan keuangan utama, mulai dari laporan laba rugi, neraca, laporan perubahan modal, sampai laporan arus kas. Di tahap ini, angka-angka yang sudah dipisahkan sebelumnya tinggal disajikan sesuai format standar akuntansi yang berlaku.

Baca Juga: Analisis Laporan Keuangan: Pengertian, Metode, dan Cara Melakukannya

7. Membuat Jurnal Penutup

Jurnal penutup dibuat buat memindahkan saldo akun-akun sementara, seperti pendapatan dan beban, ke akun laba ditahan. Tujuannya supaya akun-akun tersebut kembali ke posisi nol dan siap dipakai lagi buat mencatat transaksi di periode berikutnya.

8. Menyusun Neraca Saldo Setelah Penutupan

Tahap terakhir cara membuat laporan keuangan adalah menyusun neraca saldo setelah penutupan, yang cuma berisi akun-akun riil seperti aset, kewajiban, dan modal. Langkah ini memastikan saldo debit dan kredit tetap seimbang sebelum masuk ke periode akuntansi berikutnya.

Jenis Laporan Keuangan yang Perlu Disiapkan

Dari proses di atas, ada beberapa laporan utama yang jadi hasil akhirnya, yaitu laporan laba rugi, neraca, laporan perubahan modal, dan laporan arus kas. Masing-masing punya fungsi berbeda, mulai dari menggambarkan kinerja perusahaan dalam satu periode, sampai menunjukkan posisi aset dan kewajiban pada tanggal tertentu. Kalau kamu butuh penjelasan lebih detail soal masing-masing jenis laporan ini, ada baiknya dipelajari secara terpisah biar lebih mendalam.

Apakah Cara Membuat Laporan Keuangan Ini Bisa Dilakukan Manual

Bisa banget, terutama buat usaha kecil dengan jumlah transaksi yang belum terlalu banyak. Kamu bisa memanfaatkan spreadsheet seperti Excel atau Google Sheets buat mencatat dan menyusun laporan secara manual. Tapi, semakin berkembang bisnis kamu, proses manual ini biasanya makin rawan human error dan memakan waktu. Di titik ini, banyak pelaku usaha mulai beralih ke software akuntansi yang bisa mengotomatisasi proses pencatatan sampai penyusunan laporan, sehingga data antar laporan otomatis saling terhubung tanpa perlu dihitung ulang secara manual.

Baca Juga: Cara Baca Laporan Keuangan Perusahaan untuk Investor Pemula

Tips Biar Laporan Keuangan Lebih Akurat

  • Gunakan sistem akrual dibanding sistem kas, karena sistem ini mencatat semua transaksi termasuk piutang dan utang, sehingga gambaran kondisi keuangan jadi lebih akurat.
  • Catat semua transaksi secara konsisten, sekecil apa pun nilainya, jangan menunda pencatatan sampai transaksinya menumpuk.
  • Beri penjelasan detail di setiap pencatatan, biar gampang ditelusuri kalau ada kesalahan atau perlu pengecekan ulang.
  • Patuhi tenggat waktu penyusunan, baik itu bulanan, kuartalan, atau tahunan, supaya laporan tetap relevan dan bisa dipakai buat pengambilan keputusan tepat waktu.
  • Manfaatkan software akuntansi kalau volume transaksi bisnis kamu sudah mulai banyak, biar proses penyusunan laporan lebih cepat dan minim kesalahan.

FAQ Cara Membuat Laporan Keuangan

1. Apa langkah pertama dalam cara membuat laporan keuangan?
Langkah pertama adalah mencatat seluruh transaksi yang terjadi ke dalam jurnal, lengkap dengan bukti pendukung seperti nota atau kwitansi.

2. Apa bedanya sistem akrual dan sistem kas dalam penyusunan laporan?
Sistem kas hanya mencatat transaksi yang berkaitan langsung dengan kas masuk dan keluar, sementara sistem akrual juga mencatat transaksi berbasis utang dan piutang, sehingga gambarannya lebih akurat.

3. Apakah laporan keuangan wajib dibuat setiap bulan?
Idealnya iya, terutama untuk kebutuhan internal, meski laporan tahunan tetap wajib disusun untuk keperluan pelaporan resmi dan evaluasi kinerja secara menyeluruh.

4. Apa fungsi jurnal penyesuaian dalam siklus akuntansi?
Jurnal penyesuaian berfungsi menyesuaikan saldo akun yang belum tercatat atau belum sesuai kondisi sebenarnya sebelum laporan keuangan akhir disusun.

5. Apakah pelaku usaha kecil tetap perlu membuat neraca lajur?
Untuk usaha yang masih sederhana, neraca lajur bisa disederhanakan atau dilewati, tapi tetap disarankan sebagai alat bantu untuk memastikan data sebelum masuk ke laporan akhir.

6. Apa yang terjadi kalau laporan keuangan telat disusun?
Laporan yang telat disusun berisiko kehilangan relevansinya untuk pengambilan keputusan, karena kondisi bisnis bisa saja sudah berubah saat laporan baru selesai dibuat.

7. Apakah software akuntansi wajib digunakan sejak awal usaha berdiri?
Tidak wajib di awal, tapi begitu volume transaksi mulai kompleks, software akuntansi akan sangat membantu mempercepat proses dan mengurangi risiko kesalahan pencatatan manual.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *