Ruangkeuangan, – Pertanyaan soal nabung emas atau uang sebenarnya bisa dijawab dengan angka, bukan sekadar perasaan mana yang lebih aman. Inflasi tahunan Indonesia per Agustus 2026 tercatat 3,19 persen menurut Badan Pusat Statistik. Artinya, uang yang hanya didiamkan di rekening tabungan biasa nilainya otomatis tergerus setiap tahun, karena bunga tabungan reguler jarang sampai menyentuh angka itu.
Sementara itu, harga emas Antam pada 18 September 2026 berada di level Rp2.623.000 per gram. Setahun sebelumnya, di periode yang sama pada akhir September 2025, harga emas masih berkisar Rp2,19 juta per gram. Kenaikan sekitar 20 persen dalam setahun ini membuat banyak orang mulai mempertimbangkan ulang cara mereka menyimpan dana darurat maupun tabungan jangka panjang.
Perbandingan Nabung Emas atau Uang Berdasarkan Data Terkini
Untuk melihat mana yang lebih menguntungkan, ada tiga instrumen yang biasa dibandingkan masyarakat, yaitu tabungan biasa, deposito, dan emas fisik. Ketiganya punya karakteristik risiko dan imbal hasil yang berbeda.
Tabungan biasa umumnya memberi bunga di bawah 1 persen per tahun, jauh di bawah inflasi 3,19 persen. Artinya, daya beli uang yang disimpan di tabungan biasa justru menurun meski nominalnya terlihat tetap atau bertambah sedikit.
Deposito rupiah sedikit lebih baik. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menetapkan tingkat bunga penjaminan simpanan rupiah di bank umum sebesar 3,50 persen hingga periode September 2026. Namun, bunga deposito dikenakan pajak final sebesar 20 persen, sehingga imbal hasil bersihnya berkisar 2,8 persen per tahun, masih di bawah laju inflasi tahunan.
Emas fisik menunjukkan performa yang berbeda. Dengan kenaikan harga sekitar 20 persen dalam setahun terakhir, emas jauh melampaui inflasi maupun bunga deposito. Meski begitu, emas punya biaya tersembunyi berupa selisih harga jual dan buyback. Pada 18 September 2026, harga jual Antam Rp2.623.000 per gram, sementara harga buybacknya Rp2.458.000 per gram, atau selisih sekitar 6,3 persen.
Kelebihan dan Risiko Menabung Emas
Emas dikenal sebagai instrumen yang relatif tahan terhadap gejolak ekonomi dan pelemahan nilai mata uang. Kenaikan harga emas dalam setahun terakhir menjadi bukti bahwa emas bisa menjadi pelindung nilai kekayaan yang efektif, terutama saat inflasi maupun ketidakpastian ekonomi meningkat.
Namun, emas juga punya risiko fluktuasi harga jangka pendek. Harga emas bisa turun dalam hitungan hari akibat sentimen pasar global, seperti kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau ketegangan geopolitik. Selain itu, emas fisik memerlukan biaya penyimpanan atau pengamanan tambahan, dan penjualannya kembali selalu terkena selisih harga buyback.
Kelebihan dan Risiko Menabung Uang di Bank
Menyimpan uang dalam bentuk tabungan atau deposito memberi keunggulan pada aspek likuiditas dan kemudahan akses. Dana bisa dicairkan sewaktu-waktu tanpa perlu proses jual beli seperti emas, dan simpanan di bank yang dijamin LPS relatif aman dari risiko gagal bayar hingga batas tertentu.
Kelemahannya, imbal hasil tabungan dan deposito cenderung tidak mampu mengimbangi inflasi dalam jangka panjang. Uang yang hanya disimpan tanpa dikelola lebih lanjut berisiko kehilangan daya beli secara perlahan, meski jumlah nominalnya tidak berkurang.
Menabung Emas atau Uang, Mana yang Cocok untuk Kebutuhan Jangka Pendek?
Untuk kebutuhan dana darurat atau pengeluaran dalam waktu dekat, uang tunai atau tabungan tetap lebih relevan karena sifatnya yang likuid dan bebas dari risiko fluktuasi harga. Emas lebih cocok digunakan sebagai instrumen simpanan jangka menengah hingga panjang, mengingat nilainya membutuhkan waktu untuk menunjukkan potensi kenaikan yang signifikan.
Pertanyaan Seputar Nabung Emas atau Uang (FAQ)
1. Lebih menguntungkan mana, nabung emas atau uang di deposito?
Berdasarkan data setahun terakhir, kenaikan harga emas sekitar 20 persen jauh melampaui bunga deposito yang hanya berkisar 2,8 persen bersih setelah pajak. Namun, emas memiliki risiko fluktuasi harga yang lebih tinggi dibanding deposito.
2. Apakah nabung uang di tabungan biasa masih menguntungkan?
Secara riil tidak, karena bunga tabungan biasa umumnya di bawah 1 persen per tahun, jauh di bawah inflasi tahunan yang tercatat 3,19 persen pada Agustus 2026.
3. Berapa selisih harga jual dan buyback emas Antam?
Pada 18 September 2026, selisihnya sekitar 6,3 persen, dengan harga jual Rp2.623.000 per gram dan harga buyback Rp2.458.000 per gram.
4. Apakah emas cocok untuk dana darurat?
Emas kurang ideal untuk dana darurat karena proses pencairannya melibatkan selisih harga buyback dan potensi fluktuasi nilai jangka pendek, berbeda dengan tabungan yang bisa dicairkan langsung tanpa selisih harga.
5. Apakah lebih baik mengombinasikan emas dan tabungan?
Kombinasi keduanya umum dilakukan, dengan tabungan atau deposito untuk kebutuhan likuid jangka pendek, dan emas untuk simpanan nilai jangka menengah hingga panjang.



