Ruangkeuangan, – Bayangkan rekening kamu tiba-tiba masuk uang setiap tiga bulan — bukan dari gaji, bukan dari lembur, tapi dari saham yang kamu pegang. Itulah dividen. Dan ternyata, cara dapat penghasilan tambahan yang satu ini jauh lebih mudah dipahami dan diakses dari yang kebanyakan orang kira.
Tapi ada satu hal yang sering luput dari perhitungan: dividen bukan penghasilan bebas pajak. Dan memahami ini dari awal akan menghindarkan kamu dari kejutan yang tidak menyenangkan.
Cara Dapat Penghasilan Tambahan dari Dividen: Begini Cara Kerjanya
Dividen adalah bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Sederhananya: kamu beli saham perusahaan, perusahaan untung, kamu dapat jatah keuntungannya.
Tidak semua saham membayar dividen — hanya perusahaan yang memiliki laba stabil dan memilih untuk membagi keuntungan kepada pemegang sahamnya. Perusahaan seperti ini biasanya disebut dividend stock atau saham dividen.
Ada dua jenis dividen yang perlu kamu tahu:
Dividen Tunai — dibayarkan langsung ke rekening saham kamu dalam bentuk uang. Ini yang paling umum dan paling mudah dirasakan manfaatnya.
Dividen Saham — diberikan dalam bentuk tambahan lembar saham, bukan uang tunai. Cocok untuk yang ingin menambah kepemilikan tanpa keluar modal baru.
Berapa Besar Dividen yang Bisa Kamu Terima?
Besar kecilnya dividen ditentukan oleh dua hal: jumlah saham yang kamu pegang dan besaran dividen per lembar yang ditetapkan perusahaan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Contoh sederhananya:
- Kamu punya 10.000 lembar saham perusahaan X
- Perusahaan X mengumumkan dividen Rp100 per lembar
- Maka kamu menerima: Rp1.000.000 — sebelum pajak
Angka ini terlihat kecil untuk 10.000 lembar, tapi jika kamu memegang ratusan ribu hingga jutaan lembar saham perusahaan dengan track record dividen yang konsisten, hasilnya sangat berbeda.
Jangan Lupa: Dividen Kena Pajak Final 10%
Ini bagian yang sering diabaikan investor pemula. Dividen tunai yang diterima dari perusahaan terbuka (go public) dikenakan PPh Final sebesar 10% dari jumlah bruto dividen.
Kabar baiknya: pajaknya dipotong langsung oleh perusahaan sebelum dividen masuk ke rekeningmu. Artinya kamu tidak perlu repot menghitung dan menyetor sendiri — cukup terima bersih setelah dipotong.
Namun tetap perlu dicatat dalam SPT Tahunan sebagai penghasilan yang sudah dikenai pajak final — bukan diabaikan begitu saja.
Saham Dividen Seperti Apa yang Layak Dipilih?
Tidak semua saham yang membayar dividen otomatis layak dikoleksi. Ada beberapa kriteria yang perlu kamu perhatikan:
1. Dividend Yield yang Masuk Akal Dividend yield adalah perbandingan dividen per lembar terhadap harga saham. Yield yang terlalu tinggi (di atas 10%) perlu diwaspadai — bisa jadi karena harga sahamnya sedang anjlok, bukan karena perusahaannya terlalu dermawan.
Yield yang sehat biasanya berkisar antara 3–7% per tahun untuk saham blue chip Indonesia.
2. Konsistensi Pembayaran Dividen Cari perusahaan yang sudah membayar dividen secara konsisten minimal 5 tahun berturut-turut. Ini menunjukkan stabilitas laba dan komitmen manajemen terhadap pemegang saham.
3. Payout Ratio yang Seimbang Payout ratio adalah persentase laba yang dibagikan sebagai dividen. Idealnya 40–60% — cukup besar untuk pemegang saham, tapi perusahaan tetap punya dana untuk berkembang.
4. Fundamental Bisnis yang Kuat Dividen hanya bisa dibayar jika perusahaan benar-benar untung. Pilih saham dari sektor yang stabil: perbankan, konsumer, telekomunikasi, dan infrastruktur — bukan perusahaan yang labanya naik-turun tidak menentu.
Strategi “Dividend Reinvestment” untuk Efek Compounding
Daripada menghabiskan dividen yang diterima, coba pertimbangkan strategi dividend reinvestment: dividen yang masuk langsung digunakan untuk membeli lebih banyak saham yang sama.
Efeknya bersifat compounding — semakin banyak saham yang kamu punya, semakin besar dividen berikutnya, semakin banyak lagi saham yang bisa dibeli. Dalam 10–15 tahun, strategi sederhana ini bisa mengubah investasi awal yang biasa-biasa saja menjadi mesin penghasil pendapatan pasif yang signifikan.
FAQ: Dividen Saham dan Penghasilan Tambahan
1. Apa itu dividen saham dan bagaimana cara kerjanya? Dividen adalah bagian dari laba perusahaan yang dibagikan kepada pemegang saham. Jika kamu memiliki saham sebuah perusahaan dan perusahaan tersebut memutuskan membagi dividen, kamu akan menerima pembayaran sesuai jumlah lembar saham yang dimiliki dikalikan dividen per lembar yang ditetapkan.
2. Berapa pajak yang dikenakan atas dividen saham di Indonesia? Dividen tunai dari perusahaan terbuka (go public) dikenakan PPh Final sebesar 10% dari jumlah bruto. Pajak ini dipotong langsung oleh perusahaan sebelum dividen dikirimkan ke rekening investor, sehingga investor menerima jumlah bersih setelah pemotongan.
3. Apakah dividen perlu dilaporkan di SPT Tahunan? Ya, meskipun sudah dikenai pajak final dan dipotong di sumber, dividen tetap harus dilaporkan dalam SPT Tahunan sebagai penghasilan yang telah dikenai PPh Final — bukan sebagai penghasilan yang terutang pajak baru.
4. Seberapa sering perusahaan membayar dividen? Frekuensi pembayaran dividen berbeda-beda tergantung kebijakan perusahaan. Di Indonesia, banyak perusahaan membayar dividen setahun sekali setelah RUPS Tahunan. Beberapa perusahaan besar membayar interim dividend (dividen sementara) sehingga efektif dua kali setahun. Dividen kuartalan masih relatif jarang di pasar saham Indonesia dibanding Amerika Serikat.
5. Berapa modal minimal untuk mulai berinvestasi saham dividen? Di Indonesia, satu lot saham terdiri dari 100 lembar. Jadi modal minimal bergantung pada harga saham yang dipilih. Untuk saham blue chip dengan track record dividen bagus, kamu bisa mulai dari Rp500 ribu hingga Rp5 juta untuk satu lot, tergantung harga sahamnya.
6. Apa perbedaan dividend yield dan payout ratio? Dividend yield adalah persentase dividen per lembar dibagi harga saham saat ini — menunjukkan seberapa besar “imbal hasil” dari dividen relatif terhadap harga beli. Payout ratio adalah persentase laba perusahaan yang dibagikan sebagai dividen — menunjukkan seberapa besar porsi keuntungan yang dinikmati pemegang saham.
7. Apakah saham dengan dividend yield tinggi selalu lebih baik? Tidak selalu. Yield yang sangat tinggi (di atas 10%) bisa menjadi tanda bahaya — bisa jadi karena harga sahamnya sedang turun drastis, bukan karena perusahaannya sangat profitable. Selalu periksa alasan di balik yield yang tinggi sebelum memutuskan membeli.
8. Apa itu cum date dan ex date dalam konteks dividen? Cum date adalah tanggal terakhir kamu harus sudah memiliki saham agar berhak mendapatkan dividen. Ex date adalah hari berikutnya — jika kamu beli saham di atau setelah ex date, kamu tidak mendapat dividen periode tersebut. Jadi penting untuk memperhatikan kedua tanggal ini sebelum memutuskan membeli saham dividen.



